I Made Surianta
SMPN 1 Banjarangkan
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk (1)
mendeskripsikan perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang
mengikuti pembelajaran kontekstual dan siswa yang mengikuti pembelajaran
konvensional, (2) mendeskripsikan perbedaan prestasi belajar matematika antara
siswa yang menggunakan media berbasis ICT
dan siswa yang menggunakan media konvensional, (3) mendeskripsikan pengaruh
interaktif antara pendekatan pembelajaran dengan penggunaan media terhadap prestasi belajar
matematika. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Banjarangkan dengan
menggunakan metode eksperimen semu dengan Posttest-Only Control Group Design,
yang melibatkan sampel sebanyak 132 siswa yang dipilih dengan teknik sampling
kelompok. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendekatan pembelajaran
kontekstual (CTL) yang dilakukan pada kelompok eksperimen dan pembelajaran
konvensional yang dilakukan pada kelompok kontrol. Variabel moderator adalah media ICT dan media konvensional. Sebagai
variabel terikat adalah prestasi belajar matematika. Instrumen penelitian
berupa tes prestasi belajar matematika yang digunakan dalam menjaring data.
Analisis data menggunakan ANAVA dua jalur dan uji Tukey. Hasil analisis
menunjukkan hal-hal sebagai berikut. (1) Prestasi belajar matematika siswa yang
mengikuti pembelajaran kontekstual lebih baik secara signifikan daripada
prestasi belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional
dengan Q hitung sebesar 4,197. (2) Prestasi belajar matematika siswa yang
menggunakan media ICT lebih baik
secara signifikan daripada prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan
media konvensional dengan Q hitung
sebesar 3,336. (3) Terdapat pengaruh interaktif antara model pembelajaran yang
diterapkan dengan media pembelajaran
terhadap prestasi belajar matematika siswa dengan F hitung sebesar 18,649.
Kata kunci: pembelajaran kontekstual, ICT; prestasi belajar Matematika
ABSTRACT
The purpose of the are: (1) to describe the differences between
the mathematics achievement of students who followed the contextual learning
with students who followed the conventional learning, (2) to describe the
differences between the mathematics achievement students who used ICT media
with students who used the conventional media, (3) to describe interaction
effect between learning approach and the used of media on mathematics learning
achievement. This research was carried out in SMP Negeri 1 Banjarangkan
involving 132 students selected by random sampling technique to the class. The
design of the study was quasi experimental method with Posttest-Only Control
Group Design. The independent variables in this study is the contextual
approach which is given in the experimental group and the conventional teaching
provided in the control group. Moderator variables are the ICT media and the
conventional media. As the dependent variable in the research is mathematics
learning achievement. Mathematic learning achievement test as the research
instrument used in capturing data. Data analysis using two pathways ANOVA and
Tukey test. Based on the analysis of the data that has been done, the results
are obtained. (1) Mathematics learning achievement of students who followed the
contextual learning is significantly better than mathematics learning achievement
of students who followed the conventional learning with a count of Q 4.197. (2)
Mathematics learning achievement of students who used media ICT is
significantly better than mathematics learning achievement of students who used
the conventional media with the number of Q 3.336. (3) There was interaction
influence between the applied learning model with the instructional media used
in the impact on student mathematics achievement by F test 18.649.
Key words: contextual learning; ICT;
mathematics learning achievement
Pendahuluan
Dewasa ini, penyelenggaraan pendidikan di
Indonesia mengacu pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Menurut undang-undang ini, tujuan
pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang
mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Berdasarkan tujuan itu pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19
Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan yang meliputi standar isi,
standar proses, standar kompetensi lulusan, standar guru dan tenaga
kependidikan, standar sarana prasarana, standar pengelolaan, standar
pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Standar nasional pendidikan
tersebut berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan
pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
Proses pembelajaran pada satuan pendidikan
diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi siswa untuk berpartisipasi
aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik, serta psikologis
siswa, sehingga desain pembelajaran yang dirancang guru berorientasi pada
aktivitas siswa. Namun, permasalahan yang dihadapi saat ini adalah lemahnya
kegiatan pembelajaran, karena siswa
kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir (Sanjaya, 2006:1).
Selanjutnya, dikatakan bahwa kenyataan ini berlaku untuk semua mata pelajaran
tidak dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan sistematis,
karena strategi pembelajaran berpikir tidak digunakan secara baik dalam setiap
kegiatan pembelajaran di kelas.
Matematika sebagai salah satu mata
pelajaran di SMP bertujuan untuk mengembangkan kemampuan bernalar pada diri
siswa yang tecermin melalui kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis, dan
memiliki sifat objektif, jujur, serta disiplin dalam memecahkan suatu
permasalahan baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan
sehari-hari. Namun, keadaan di lapangan belumlah sesuai dengan yang diharapkan.
Masih banyak siswa yang belum mengetahui tujuan pembelajaran Matematika. Hal
ini tecermin dari rendahnya kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah
sehari-hari yang melibatkan matematika.
Penerapan KTSP di sekolah menuntut siswa
untuk bersikap aktif, kreatif, dan inovatif dalam menanggapi setiap pelajaran
yang diajarkan. Setiap siswa harus dapat memanfaatkan ilmu yang diperolenya
dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, setiap pelajaran selalu dikaitkan
dengan kebermanfaatannya dalam lingkungan sosial masyarakat. Sikap aktif,
kreatif, dan inovatif terwujud dengan menempatkan siswa sebagai subjek
pendidikan. Peran guru adalah sebagai fasilitator dan bukan
sumber utama pembelajaran. Penumbuhan sikap aktif, kreatif, dan inovatif siswa
tidaklah mudah. Fakta yang terjadi adalah guru dianggap sumber belajar yang
paling benar. Kegiatan pembelajaran yang terjadi selama ini adalah memposisikan
siswa sebagai pendengar ceramah guru. Akibatnya, proses belajar-mengajar
cenderung membosankan dan menjadikan siswa malas belajar. Sikap siswa yang
pasif tersebut ternyata tidak hanya terjadi pada mata pelajaran tertentu,
tetapi juga pada hampir semua mata pelajaran termasuk pelajaran Metematika.
Guru dalam menyampaikan konsep
pembelajaran seharusnya menghubungkan dengan permasalahan sehari-hari yang
dihadapi oleh siswa, sehingga konsep yang abstrak dapat dibayangkan oleh siswa.
Selama ini, kecendrungan siswa belajar matematika hanyalah untuk menghadapi
ulangan dan terlepas dari kehiduapn sehari-hari. Akibatnya, siswa menjadi
kurang termotivasi untuk belajar. Hal
ini mengakibatkan kualitas proses belajar-mengajar rendah dan berimplikasi pada
mutu pembelajaran Matematika belum tercapai secara optimal. Semua itu adalah
dampak dari penerapan pembelajaran konvensional yang memiliki ciri-ciri sebagai
berikut. Guru cenderung mengunakan metode ceramah (komunikasi satu arah); guru
memiliki otoritas tinggi; guru adalah sumber informasi; pengajaran bertitik
tolak dari pengertian dan istilah atau difinisi; guru tidak memperhatikan
karakteristik siswa; guru tidak menggunakan benda konkret untuk menjembatani
pikiran siswa, yakni dari konkret ke abstrak; pembelajaran yang terjadi tidak
mengkaitkan dengan dunia nyata siswa; serta guru tidak memberikan ruang bagi
siswa untuk membangun (konstruktivisme) pengetahuannya sendiri. Dampaknya
adalah keaktifan anak menjadi rendah,
cenderung apatis, anak merasa pembelajaran Matematika yang dipelajarinya tidak bermakna.
Artinya, pembelajaran yang diberikan tidak dapat digunakan untuk memecahkan
masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Rendahnya keaktifan siswa
berimplikasi pada rendahnya hasil belajar siswa.
Berdasarkan
permasalahan yang diuraikan di atas, hal-hal yang berkaitan dengan hasil
belajar dapat diidentifikasi beberapa
masalah, antara lain sebagai berikut. (1) Perencanaan dan implementasi program
pembelajaran yang dilakukan oleh guru dewasa ini, tampaknya masih dilandasi
oleh asumsi bahwa pengetahuan dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru
ke pikiran siswa. (2) Dalam pembelajaran konsep yang disampaikan oleh guru
tampaknya jarang dihubungkan dengan permasalahan yang dihadapi oleh siswa
sehari-hari, sehingga konsep yang abstrak sulit dibayangkan oleh siswa. (3)
Terjadi pergeseran paradigma pembelajaran ke arah teori pembelajaran
konstruktivistik. (4) Dalam pembelajaran Matematika yang bersifat abstrak,
peranan media sangat penting, sedangkan media yang tersedia sudah tidak sesuai
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak menarik perhatian
siswa, dan tidak inovatif.
Pembelajaran kontekstual merupakan konsep
pembelajaran yang membantu guru dalam mengaitkan materi pelajaran dengan
kehidupan nyata dan memotivasi siswa dalam membuat hubungan antara pengetahuan
yang dipelajarinya dan masalah dalam kehidupan mereka (Direktorat Pembinaan
SMP, 2010:3). Melalui pembelajaran kontekstual diharapkan konsep-konsep materi
pelajaran dapat diintegrasikan dalam konteks kehidupan nyata dengan harapan
siswa dapat memahami apa yang dipelajarinya dengan lebih baik dan mudah.
Pembelajaran kontekstual adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang
menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menguasai
materi yang dipelajari dan mengaitkan dengan situasi dunia nyata siswa, serta
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan
siswa diperoleh dari usaha siswa mengonstruksi sendiri pengetahuan dan
keterampilan baru, ketika siswa belajar (Muslich, 2007:41; Sanjaya, 2006:109).
Banyak penelitian mengenai pembelajaran
kontekstual menyajikan bukti-bukti yang menyakinkan. Mahendra (2007) dalam
penelitiannya di SMP Negeri 1 Marga menyimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual
dapat meningkatkan prestasi belajar Matematika
siswa. Mulyati (2008) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa (1) ada
perbedaan yang signifikan mengenai sikap terhadap pelajaran Matematika antara
siswa yang mengikuti pembelajaran kontekstual dan yang mengikuti pembelajaran
konvensional. (2) Ada perbedaan motivasi belajar Matematika yang signifikan
antara siswa yang mengikuti pembelajaran kontekstual dan yang mengikuti
pembelajaran konvensional. Pendekatan pembelajaran konvensional
memberikan pengaruh yang lebih baik pada motivasi belajar matematika
dibandingkan dengan pembelajaran kontekstual. (3) Ada perbedaan hasil belajar
Matematika yang signifikan antara siswa yang mengikuti pembelajaran kontekstual
dan yang mengikuti pembelajaran konvensional. Pembelajaran kontekstual
memberikan pengaruh yang lebih baik pada hasil belajar Matematika dibandingkan
dengan pembelajaraan konvensional. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa
pembelajaran Matematika dengan pendekatan kontekstual mempunyai pengaruh
positif terhadap prestasi belajar Matematika.
Matematika adalah ilmu yang mempelajari
tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak. Untuk menunjang kelancaran
pembelajaran, di samping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu
media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstraksi siswa
(Suyitno, 2000:37). Sejalan dengan hal ini, hasil penelitian Kurniawati (2005)
menunjukan bahwa pada umumnya pendapat guru dan siswa tentang manfaat ICT khususnya edukasi net antara lain: (1) memudahkan guru dan
siswa dalam mencari sumber belajar alternatif, (2) dapat memperjelas materi
yang telah disampaikan oleh guru, karena di samping disertai gambar juga ada
animasi menarik, (3) dapat berlatih soal dengan memanfaatkan uji kompetensi,
(4) cara belajar lebih efesien, (5)
wawasan bertambah, (6) meringankan dalam membuat contoh soal, (7) mengetahui
dan mengikuti perkembangan materi dan informasi-informasi lain yang berhubungan
dengan bidang studi, (8) membantu siswa dalam mempelajari materi secara
individu selain di sekolah, dan (9) membantu siswa melek ICT.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
seberapa besar pengaruh penerapan
pembelajaran kontekstual dan penggunaan media ICT terhadap hasil belajar Matematika siswa kelas IX SMP Negeri 1
Banjarangkan. Secara rinci, masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. (1) Apakah terdapat
perbedaan prestasi belajar Matematika antara siswa yang mengikuti pembelajaran
kontekstual dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional? (2) Apakah
terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang menggunakan
media berbasis ICT dan siswa yang
menggunakan media konvensional? (3) Apakah terdapat interaksi antara pendekatan
pembelajaran dan penggunaan media
terhadap prestasi belajar Matematika.
Metode
Penelitian ini dilaksanakan pada kelas IX
semester ganjil tahun pelajaran 2010/2011 di SMP Negeri 1 Banjarangkan. Pada
dasarnya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan
pendekatan pembelajaran kontekstual dan penggunaan media pembelajaran berbasis ICT terhadap prestasi belajar matematika
siswa, dengan memanipulasi variabel bebas, yaitu pembelajaran kontekstual
dan media pembelajaran berbasis ICT.
Sementara itu, variabel yang lain tidak bisa dikontrol secara ketat, sehingga
desain penelitian yang digunakan adalah desain eksperimen semu (quasi
exsperiment).
Desain eksperimen yang digunakan adalah Posttest-Only
Control Group Design. Pemilihan metode ini disesuaikan dengan data yang
diharapkan, yaitu perbedaan prestasi belajar Matematika sebagai akibat
perlakuan yang diberikan. Variabel
terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar Matematika siswa. Variabel
bebas dalam penelitian ini adalah pendekatan pembelajaran, yang dibedakan
menjadi dua kelompok, yaitu pembelajaran kontekstual dan pembelajaran
konvensional. Sementara itu, variabel moderatornya adalah media pembelajaran
yang dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu media ICT dan media pembelajaran konvensional.
Populasi
penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 1 Banjarangkan tahun pelajaran
2010/2011 yang berjumlah 10 kelas dengan populasi 332 orang. Sementara itu,
sampel penelitian adalah 4 kelas yang diambil dengan menggunakan teknik random sampling. Masing-masing kelas
diberikan perlakuan yang berbeda, yakni kelas pertama sebanyak 33 orang siswa
diberikan pembelajaran kontekstual berbantuan media ICT, sedangkan kelas kedua
sebanyak 33 orang siswa diberikan pembelajaran kontekstual dengan bantuan media
pembelajaran konvensional. Sementara itu, kelas ketiga sebanyak 33 orang siswa
diberikan pembelajaran konvensional dengan bantuan media pembelajaran ICT dan kelas keempat diberikan pembelajaran konvensional dengan
bantuan media konvensional.
Berkaitan
dengan permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini, data yang diperlukan
adalah skor prestasi belajar matematika yang dikumpulkan melalui tes matematika
pada pokok bahasan bangun ruang sisi lengkung. Sebelum tes prestasi belajar ini
digunakan untuk menjaring data, uji coba dan dianalisis untuk menentukan
validitas, reliabilitas, daya beda, dan tingkat kesukaran tes dilakukan
terhadap tes ini.
Metode
analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas uji prasyarat
analisis yang meliputi uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varian,
sedangkan uji hipotesis menggunakan ANAVA 2 jalur dan uji Tukey.
Hasil
Deskripsi
data prestasi belajar siswa menunjukkan bahwa kelompok siswa yang mengikuti
pembelajaran kontekstual memiliki rata-rata skor prestasi belajar matematika
sebesar 25,121, sedangkan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran
konvensional memiliki rata-rata skor prestasi belajar matematika sebesar 22,758. Hasil perhitungan ANAVA dua jalur
menunjukkan bahwa nilai F antar tingkat faktor pada pembelajaran (antar kolom)
diperoleh Fhitung sebesar 8,695, sedangkan harga Ftabel untuk dkA
= 1 dan dkD = 128 pada taraf
signifikansi 0,025 (uji two-tail) sebesar 3,92. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis
yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara
siswa yang mengikuti pembelajaran kontekstual dan siswa yang mengikuti
pembelajaran konvensional tersebut diterima. Jadi, hasil analisis data dan uji
ANAVA dua jalur menunjukkan bahwa prestasi belajar matematika siswa yang
mengikuti pembelajaran kontekstual lebih baik daripada prestasi belajar
matematika siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Hal ini didukung
dengan uji lanjut, yaitu uji Tukey yang mendapatkan angka Qhitung sebesar
4,197, sedangkan harga Qtabel
untuk taraf signifikansi 0,05 sebesar 2,83. Hasil ini menunjukkan bahwa
prestasi belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran kontekstual lebih
baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mengikuti pembelajaran
konvensional.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa
kelompok siswa yang menggunakan media ICT
memiliki rata-rata skor prestasi belajar matematika sebesar 24,879, sedangkan
kelompok siswa yang menggunakan media konvensional memiliki rata-rata skor
prestasi belajar matematika sebesar
23,00. Hasil perhitungan ANAVA dua jalur menunjukkan bahwa nilai F antar
tingkat faktor pada media pembelajaran diperoleh Fhitung
sebesar 5,475, dan signifikan. Ini
berarti hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar
matematika antara siswa yang menggunakan media ICT dengan siswa yang
menggunakan media pembelajaran konvensional tersebut diterima. Selanjutnya,
dari perhitungan uji lanjut dperoleh Qhitung = 3,336 yang ternyata signifikan. Artinya, prestasi
belajar siswa yang menggunakan media ICT
lebih baik daripada prestasi belajar siswa yang menggunakan media konvensional.
Hasil uji hipotesis ketiga yang menyatakan
terdapat pengaruh interaksi antara pembelajaran dan media pembelajaran dalam
pengaruhnya terhadap prestasi belajar matematika seperti yang terlihat pada
tabel ringkasan ANAVA dua jalur menunjukkan Fhitung sebesar 18,649,
sedangkan Ftabel pada taraf signifikan 0,05 sebesar 3,92. Hal ini
memperlihatkan bahwa Fhitung > Ftabel, sehingga
hipotesis yang menyatakan terdapat interaksi antara metode pembelajaran dan
media pembelajaran dalam pengaruhnya terhadap prestasi belajar matematika siswa
diterima.
Pembahasan
Berdasarkan analisis data
terbukti bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang
mengikuti pembelajaran kontekstual berbantuan media ICT dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Hal ini ditunjukkan oleh koefesien ANAVA (F)
sebesar 8,695 yang ternyata signifikan. Selanjutnya, berdasarkan perhitungan
statistik didapatkan, bahwa kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran
kontekstual memiliki skor rata-rata prestasi belajar matematika sebesar 25,121
lebih tinggi daripada kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional,
yang memiliki skor rata-rata prestasi belajar matematika sebesar 22,758. Hal
ini membuktikan bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan
kontekstual berbantuan media ICT
lebih unggul daripada pendekatan konvensional.
Keunggulan
ini bukanlah terjadi karena suatu
kebetulan. Akan tetapi, hal itu terjadi akibat perbedaan perlakuan yang
diberikan. Prestasi belajar matematika yang lebih baik tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut.
Keefektifan
pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran matematika tidak lepas dari substansi materi pelajaran
matematika itu sendiri. Tujuan pembelajaran matematika adalah agar peserta
didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) memahami konsep matematika,
menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma
secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah; 2)
menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika
dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan
pernyataan matematika; 3) memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami
masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan
solusi yang diperoleh; 4) mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel,
diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; 5) memiliki
sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin
tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan
percaya diri dalam pemecahan masalah.
Kemahiran
matematika yang dituntut dalam pembelajaran Matematika kelas IX adalah mengemukakan argumen secara benar dan logis, menggunakan
model matematika, meyakini matematika sesuatu yang berguna dan bermanfaat dalam
kehidupan.
Pembelajaran kontekstual adalah suatu
konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkannya dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep seperti itu, pembelajaran akan
berlangsung secara bermakna. Proses belajar akan berlangsung secara alamiah
dalam bentuk kegiatan bekerja dan mengalami, bukan “transfer” pengetahuan dari
guru kepada siswa.
Pembelajaran
Matematika secara kontekstual memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada
siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran dan membangun sendiri
pengetahuannya. Artinya, pengetahuan yang dimiliki oleh siswa tidak secara
langsung ditanamkan oleh guru. Selain itu, dengan memberikan masalah nyata yang
sesuai dengan kehidupan sehari-hari siswa, yang sudah dipahami dan dapat
dibayangkan, siswa akan belajar secara bermakna. Siswa belajar secara bermakna,
karena siswa tahu tujuan mereka belajar dengan melihat keterkaitan antara apa
yang mereka pelajari dan pengalaman sehari-hari, sehingga siswa akan merasakan
manfaat belajar matematika. Dengan mengetahui manfaat belajar matematika bagi
kehidupan mereka, mereka tidak lagi menganggap matematika itu hanya sekumpulan
rumus-rumus yang tidak berguna dan abstrak. Dalam pembelajaran kontekstual,
penerapan asas masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan
pembelajaran melalui kelompok belajar, dengan membagi siswa dalam
kelompok-kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dari kemampuan dan
kecepatan belajarnya maupun dari bakat dan minatnya. Dengan hal tersebut,
mereka mempunyai kesempatan untuk bicara dan berbagi ide, mendengarkan ide
siswa lain dengan cermat, dan bekerjasama untuk membangun pengetahuan dengan
teman di dalam kelompoknya. Suasana belajar matematika tidak lagi kaku dan
bersifat hafalan semata, tetapi belajar matematikan akan menjadi sangat
menyenangkan.
Berdasarkan hasil pengujian secara
statistik terbukti bahwa terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara
siswa yang menggunakan media ICT dan
siswa yang menggunakan media konvensional. Siswa yang menggunakan media ICT memiliki skor rata-rata prestasi
belajar matematika (sebesar 24,879) lebih tinggi daripada skor rata-rata
prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan media konvensional (sebesar
23,00). Perbedaan ini diperkuat dengan koefesien ANAVA (Fhitung)
sebesar 5,475 yang ternyata signifikan. Selanjutnya, uji Tukey menunjukkan
bahwa Qhitung sebesar 3,336, yang juga signifikan. Hal ini
menunjukkan bahwa penggunaan media ICT
dalam pembelajaran matematika SMP kelas IX menunjukkan hasil yang signifikan
(lebih baik) daripada penggunaan media konvensional yang selama ini digunakan..
Matematika adalah ilmu yang mempelajari
tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak. Oleh karena itu, untuk
menunjang kelancaran pembelajaran di samping pemilihan metode yang tepat juga
perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing
abstraksi siswa (Suyitno, 2000:37). Dari pendapat ini dapat ditarik suatu
simpulan bahwa dalam pembelajaran Matematika peran media sangat menunjang untuk
membimbing abstraksi siswa agar lebih mudah menerima dan memahami konsep yang
diberikan. Penggunaan media pembelajaran Matematika sangat memengaruhi hasil
belajar siswa. Penggunaan media konvensional dalam pembelajaran Matematika memiliki beberapa
kekurangan dibandingkan dengan media ICT.
Di samping karena tidak menarik perhatian siswa, media konvensional juga sangat
terbatas jumlahnya. Sementara itu,
penggunaan media ICT dapat
menarik perhatian siswa seperti sekarang ini, karena lebih inovatif dan mampu
menyampaikan pesan audiovisual.
Pembelajaran Matematika berbasis ICT lebih inovatif daripada yang
konvensional. Paradigma pembelajaran Matematika yang terbiasa dengan angka,
rumus, PR, dan latihan soal yang menjemukan tentu harus diubah menjadi
pembelajaran Matematika yang menyenangkan. Hal ini bisa dilakukan dengan
menggunakan multimedia dalam menyampaikan materi yang diselingi berbagai hal
unik dari media yang ada. Jadi, dengan adanya teknologi, pembelajaran
matematiIka lebih inovatif dan membuat siswa mampu memanifestasikannya dalam
dunia nyata yang tidak terbatas pada simbol matematika semata.
Matematika yang didominasi dengan angka,
rumus, bagan, dan grafik sering membuat siswa sulit menerima materi yang
disampaikan guru. Akan tetapi, hal ini bisa disiasati jika guru mampu memberi
warna yang berbeda dalam penyampainnya, baik sajian audio maupun visualnya. Di
sinilah peran kecanggihan teknologi yang dapat membantu pembelajaran Matematika
agar lebih cepat dipahami oleh siswa. Hal itu terjadi
karena media audio dapat memperjelas materi yang telah disampaikan oleh guru,
di samping disertai gambar juga ada animasi menarik.
Pembelajaran Matematika dengan bantuan ICT akan membuat siswa lebih tertarik
dalam mendalami materi ataupun hal-hal lain terkait dengan materi yang
disampaikan. Dengan media ICT, siswa
tidak hanya mendapatkan informasi dari buku sumber dan dari guru semata, tetapi
bisa menggali secara luas dari media internet sebagai sumber belajar
alternatif.
Matematika yang didukung dengan
kecanggihan ICT membuat pembelajaran
Matematika tidak menjenuhkan. Banyak program interaktif yang mampu membuat
siswa senang belajar matematika, seperti kuis interaktif dan media interaktif.
Manfaat lain yang diperoleh dari pembelajaran Matematika berbasis ICT adalah para guru matematika akan
semakin kreatif dalam mengemas dan menyajikan matematika menjadi sesuatu hal
yang menyenangkan bagi para siswa. Dengan memanfaatkan media ICT, siswa dapat mengulang kembali
materi yang disampaikan oleh guru di rumah atau di tempat lain yang memiliki
fasilitas ICT, baik secara individu
maupun secara berkelompok. Di samping itu, penggunaan media ICT dalam pembelajaran Matematika dapat
menambah wawasan siswa, karena dengan media ini siswa dengan mudah dapat
mengakses materi yang sedang dipelajarinya melalui internet yang tersedia di
sekolah ataupun di tempat lain.
Pembelajaran diselenggarakan dengan
harapan agar siswa mampu menangkap atau menerima, memproses, menyimpan, dan
mengeluarkan informasi yang telah diolahnya. Media yang mampu mengakomodasi
agar tujuan pembelajaran sesuai dengan harapan di atas adalah media ICT. Media ICT dapat menampilkan tayangan audiovisual, sehingga siswa dapat
melihat, mendengar, dan mengotak-atiknya sesuai dengan keinginan mereka.
Uji hipotesis ketiga menunjukkan terdapat
interaksi antara penerapan pendekatan pembelajaran dengan media pembelajaran
dalam pengaruhnya terhadap prestasi belajar matematika siswa. Dari hasil uji
hipotesis ini bisa dimaknai bahwa prestasi belajar matematika siswa akan lebih
baik jika menggunakan pembelajaran kontekstual dibandingkan jika menggunakan
pembelajaran konvensional. Begitu pula prestasi belajar matematika siswa akan
lebih baik jika menggunakan media ICT
dibandingkan dengan siswa yang menggunakan media konvensional. Sementara itu,
dari hasil uji hipotesis ketiga dinyatakan bahwa terdapat interaksi antara
penerapan pembelajaran dengan penggunaan media terhadap prestasi belajar
matematika siswa. Hal ini berarti penerapan pembelajaran dan penggunaan media
akan saling menunjang dan memengaruhi prestasi belajar siswa.
Pembelajaran kontekstual berbasis ICT merupakan suatu konsep pembelajaran
bermakna, nyata, sistematis, dan relevan dengan konteks kehidupan siswa, yang
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajarannya didukung dengan
bantuan piranti elektronik, seperti piranti komputer, LCD Viewer, CD Room,
jaringan internet, dan piranti elektronik lainnya. Pembelajaran kontekstual
yang diintegrasikan dengan penggunaan media ICT
akan memberikan dampak positif terhadap prestasi belajar siswa. Hal ini mungkin
terjadi, karena penggunaan media ICT
akan berpengaruh positif terhadap hasil belajar dibandingkan dengan penggunaan
media konvensional.
Interaksi antara penerapan pembelajaran
kontekstual dengan penggunaan media ICT
sangat dimungkinkan mengingat pembelajaran kontekstual menenkankan pada
keterlibatan siswa secara penuh untuk menemukan materi yang sedang
dipelajarinya dan mengaitkannya dengan kehidupan mereka. Sementara itu,
kecanggihan media ICT dapat
menjembatani antara materi yang dipelajari siswa dan situasi dunia nyata. Hal
ini terjadi, karena media ICT mampu
menyajikan tayangan audiovisual yang menyerupai keadaan nyata.
Penggunaan
media ICT dalam pembelajaran
kontekstual dapat digunakan secara berkelompok, sehingga siswa dapat saling
mengisi untuk dapat memahami materi yang sedang dipelajarinya, baik di sekolah
maupun di luar sekolah. Begitu pula dengan media ICT, siswa dimungkinkan untuk menilai sendiri prestasi belajarnya.
Hal ini bisa terlaksana, karena adanya kuis interaktif yang mengakibatkan siswa dapat melakukan
refleksi diri untuk menelaah suatu kejadian, kegiatan, dan pengalaman, serta
berpikir tentang apa yang siswa pelajari, bagaimana merasakan, dan bagaimana
siswa menggunakan pengetahuan baru tersebut untuk dapat menyelesaikan masalah
dalam kehidupan mereka.
Simpulan
Berdasarkan permasalahan yang diajukan dan
hasil analisis yang diperoleh, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
1) Terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang mengikuti
pembelajaran kontekstual dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. 2)
Terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang menggunakan
media pembelajaran berbasis ICT dan siswa yang menggunakan media pembelajaran
konvensional. 3) Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan penggunaan
media dalam pengaruhnya terhadap prestasi belajar matematika siswa.
Merujuk pada hasil temuan dalam penelitian
ini, dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut. 1) Penerapan pembelajaran
kontekstual dalam pembelajaran Matematika hendaknya dijadikan salah satu
alternatif pilihan yang dapat dilakukan oleh guru matematika mengingat
pelaksanaannya yang begitu mudah dan menjanjikan hasil yang cukup baik. 2 )
Penggunaan media pembelajaran Matematika berbasis ICT dapat dijadikan pilihan dalam menjembatani penanaman
konsep-konsep abstrak. Perangkat media ICT
yang sudah tersedia hampir di setiap sekolah jenjang SMP perlu lebih
diintensifkan penggunaannya. Pengenalan pembelajaran berbasis ICT perlu lebih ditingkatkan melalui
MGMP Matematika, seminar, dan pelatihan-pelatihan penggunaan ataupun pembuatan
media pembelajaran berbasis ICT.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2006. Dasar-dasar
evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arief, S. S. 1996. Media pendidikan:
pengertian, pengembangan, dan pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
Darhim.
1993. Media pendidikan matematika. Jurusan Pendidikan Matematika, FPMIPA
IKIP Bandung.
Dantes, N. 1983. Statistika
nonparametrik. Biro Penerbitan FIP Unud.
Departemen
Pendidikan Nasional. 2002. Pendekatan kontekstual (contekstual
teaching and learning/CTL). Jakarta:
Depdikbud.
Depdiknas. 2006. Permendiknas nomor 22
tahun 2006 tentang standar isi. Jakarta: Depdiknas.
Depdiknas. 2007. Permendiknas nomor 20
tahun 2007 tentang standar penilaian. Jakarta: Depdiknas.
Dimyati & Mudjiono. 2006. Belajar
dan pembelajaran. Jakarta:
Rineka Cipta.
Hamalik.
1992. Media pendidikan. Bandung: Alumni.
Hamalik. 2000. Psikologi
belajar dan mengajar. Bandung: Sinar Baru Algessindo.
Hudoyo, H. 1990. Strategi
mengajar belajar matematika. Malang: IKIP Malang.
Kardi,S.
& Weil, M. 2000. Pengajaran langsung. Surabaya: Unesa University
Press.
Kementerian
Pendidikan Nasional. 2010. Panduan pelaksanaan pembelajaran konstektual SMP
berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Jakarta: Direktorat Jendral
Menajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Pertama.
Kurniawati. 2005. ”Manfaat dan
kendala penerapan teknologi komunikasi dan Informasi (ICT) sebagai media komunikasi untuk meningkatkan mutu pendidikan.” http://afia-tahoba.blogspot.com/2007/04/manfaat-dan-kendala-penerapan-teknologi_01.html
Mahendra,
I W. E. 2007. Pengaruh pembelajaran kontekstual dan gaya berpikir terhadap prestasi
belajar matematika. Tesis (tidak
titerbitkan). Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha.
Muslich, M. 2007. KTSP
pembelajaran berbasis kompetensi dan kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
Pandoyo.
1997. Strategi belajar mengajar. Semarang: IKIP Semarang Press.
Pribadi, B. A. &
Rosita, T. 2002. ”Prospek komputer sebagai media pembelajaran
Interaktif dalam Sistem Pendidikan Jarak Jauh di Indonesia”.
http://www.ut.ac.id, diakses 20 Januri 2010.
Sanjaya,
W. 2005. Pembelajaran
dalam implementasi kurikulum berbasis kompetensi. Jakarta: Kencana.
Sanjaya,
W. 2004. Pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran. Bandung: San Grafika.
Slameto.
1989. Belajar dan faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Jakarta: Bina Aksara.
Sobel, M. A.
& Maletsky, E. M. 2004. Mengajar matematika sebuah buku sumber alat
peraga, aktivitas, dan strategi untuk guru matematika SD, SMP, SMA,
Jakarta: Erlangga.
Sugiyono. 2006. Statistik untuk
penelitian. Bandung: Alfabeta.
Supinah. 2008. Pembelajaran matematika
dengan pendekatan kontekstual. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan
Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika
Suyitno, Amin, Pandoyo, Hidayah Isti,
Suhito, Suparyan. 2000. Dasar-dasar dan proses pembelajaran matematika I. Semarang:
Pendidikan Matematika FMIPA UNNES.
Tim penyusun.
2003. Undang- undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar